Feeds:
Pos
Komentar

Hanya tertipu

Pernahkah kau perhatikan sang surya?

Kau pikir dia begitu lemah, saat tersapu awan kelam

Kau hanya tertipu, karena sesungguhnya dia enggan

Tuk katakan bahwa dia begitu perkasa

*******************

 

Pernahkah kau perhatikan bintang?

Kau pikir dia masih berada disana

Padahal cahaya yang kaulihat

Mungkin berasal dari cahayanya bertahun yang lalu

 

Jangan pernah mencoba

Untuk melihat segalanya hanya lewat kaca

Apalagi kaca yang jarang kau bersihkan

Boleh jadi pantulannya tak nyata

******************

 

Tertipu…kau hanya tertipu

Tapi, tak perlu kau lari menjauh karena malu

Kau hanya perlu bersihkan debu itu,

Kemudian berlarilah mengejar kafilah itu

Sampai takdir Allah  putuskan

Bahwa kau layak disana

Jangan ditanya bagaimana puisi ini tercipta

Dari goresan tinta yang hampir pudar

Ku rangkai kata-kata untuk utarakan

Cinta. Cita, dan asa…

************

Tak perlu sedih saat kita berjelaga

Tercoreng hitam wajah saat tersapu duka

Karena segalanya pasti niscaya

Tak ada manusia yang sempurna

*****************

Andai kita tanya bumi sekalipun

Dia pasti menjawab yang sama

Duka & suka silih berganti menyapa

Dengan pasti dan berotasi

***********

Lihatlah hujan…seperti langit yang menangis

Tetapi sebenarnya sumber kehidupan bumi

Lihatlah matahari…panas dan membara

Tetapi sebenarnya ,memberi arti

**************

Jika kita ingin melihat pelangi

Kita harus sabar menunggu hujan berhenti

Dan matahari memberi sinarnya yang sejati

Barulah kita bisa menikmati pelangi

**************

(semoga cepat sembuh ibu..bumi khatulistiwa akan tersenyum bersamamu)

Kala Ujian itu tiba

 

Jum`at itu, skenario Allah mempertemukanku dengan beliau. Hampir tak  bisa kukenali wajahnya. Hanya senyum yang sempat terlempar sebelum kuletakkan tas ku di depan shaf pertama perempuan. Sambil mendengarkan azan dari masjid raya di kotaku ini

******************

Setelah azan selesai berkumandang, kutolehkan kembali wajahku menghadapnya. Dia tersenyum lembut. Segera kuingat dimana pernah berjumpa.. aha!… beliau seorang pengajar di sebuah sekolah. Kucium tangannya sambil tanyakan kabarnya. Tangan itu bergetar, dan ada tanda-tanda merah bekas tusukan jarum sepertinya

****************

Dan mengalirlah ceritanya…

Beberapa tahun yang lalu, beliau pernah mengalami tumor rahim. Rahimnya harus diangkat, karena tumor itu sudah menjalar ke sana, butuh keikhlasan memang untuk menerimanya..

Selang beberapa tahun kemudian, ternyata operasi itu berdampak panjang padanya. Aku juga tidak terlalu paham pemaparannya. Tapi yang kutangkap, ada penumpakan sel-sel yang berlebih karenanya. Tak bisa menstruasi, tak bisa menyusui lagi…dan sel-sel itu menumpuk di payudaranya.

Allah… ada yang menyembilu di dada saat ia katakana kedua payudaranya juga harus diangkat!

“sholat sunnah dulu yuk nak….”, begitu katanya menutup cerita

Duhai diri….sungguh keterlenaan yang memalukan!!!

***************

Sholatku memang jauh dari khusyuk!

Saat shaf-shaf itu telah berbaris rapi, dia tepat berada di sebelahku.

Saat rukuk, dapat kudengar rintihannya..”Sssssssssshhhhhhhhhhhhh……”, ngilu…

Saat sujud, atau bangun dari sujud, rintihan itu semakin menyembilu : “sssssshhhhhhhhhhhhhhhhh”

*****************

Allah..aku tau dia tak bermaksud mengeluh

Atau juga mengadu pada manusia..

Bagaimanapun dia seorang manusia biasa.

Saat luka-luka di kedua payudaranya yang masih diperban itu,

Terasa menyakitkan,

Bisa kupahami rintihannya

************

7 bulan beliau harus menjalani kemotherapi di Jakarta

Tanpa henti; waktu, biaya, dan pengorbanan yang pasti

Tak bisa dijalani jika tak punya hati sebening mata air keikhlasan

Hebatnya lagi, selama proses itu, ada seorang lelaki

Yang setia menemaninya menjalani itu semua.

Suaminya.

Yang bersedia meninggalkan pekerjaan dan keluarga demi menemani istri tercinta

Agar tak menjalani itu semua dalam kesendirian

*************

Aku mungkin kurang beruntung,

Tak bisa melihat seperti apa wajah pangeran beliau.

Tapi aku yakin, orang-orang seperti mereka;

Yang berhasil melewati masa-masa ujian yang berat,

Punya  tatapan mata berbeda terhadap belahan jiwanya.

Tatapan kasih sayang, penuh cinta.

Bukan karena fisik mereka..

Tapi karena jiwa-jiwa mereka telah menikah.

Seutuhnya

Maka menjelma lah mereka

Dalam putaran mayapada yang tak kenal kata:

Lelah, dusta, atau menyerah

Maka menyejarahlah mereka….

******************

Yang kupahami, hidup ini memang seperti sebuah panggung besar

Setiap orang dapat peran masing-masing

Terkadang, tak layak kita tanyakan pada Sang Pencipta

Mengapa ia pilihkan scenario itu untuk kita?

Kenapa kita tidak mendapatkan peran yang menyenangkan saja?

Atau justru mencerca orang disekitar

Karena melakukan peran itu pada kita.

Karena memang inilah mata rantai kehidupan kita

Mainkan saja peran-peran kita dengan sempurna,

Dengan ridha,…Sampai Allah Ridha,

*******************

Seorang  sahabat pernah berkata padaku,

“kita tidak bisa menuntut orang lain untuk sempurna.

Tapi kita bisa menuntut kesempurnaan itu pada diri kita”

Yah…dia benar

Kala ujian itu tiba, kita tak bisa menuntut orang sekitar kita

Untuk pahami kita, untuk mengerti kita,

Atau mengikuti apa yang kita inginkan

Tapi kala ujian itu tiba,

Kita bisa menuntut diri kita untuk berperan dengan sempurna

Menuntut diri kita untuk memahami

Bahwa itulah yang tertakdir untuk kita

Itulah ujian untuk kita

Itulah yang terbaik yang Allah berikan pada kita

Maka…berprasangka baiklah padaNya

*************

Allah, kala ujian itu tiba…

Aku tahu bahwa jiwa-jiwa kami telah sepakat

Untuk saling bersekutu

Menjalankan perintah Mu

Maka, semoga jiwa-jiwa itu

Tetap bersepakat dalam ketaatan padaMu

Karena tanpanya, kami pasti tersesat

 

 

Semangat Baru

Kubuka jendela kamarku

Udara sejuk telah menunggu

Langit biru dengan gumpalan awan lucu

Juga kicauan burung merdu

**********************

Nafasnafas busuk terus memburu

Jiwajiwa lelah yang makin rindu

Suarasuara bising setia menderuderu

Menunggu kemana akan diseru

**********************

Kakikaki kotor penuh lumpur

Dahidahi kerut berkalang peluh

Bajubaju using berkawan debu

Tubuhtubuh elok tak tau tuk menuju

**********************

Mendakilah….

Lihatlah hamparan langit biru

Sesekali tengok pulalah dibawahmu

Bandingkanlah….

Ke arah mana kan kau tuju?

*************************

Pagi yang bersahaja di kamarku, 18/3/2011

Mulai dari mana?

Temanya apa?

Bagaimana jika hasilnya tidak bagus?

Responnya buruk, atau bahkan not responding?

Ahhh..jangan pedulikan itu!

Tulis saja, apa yang kau bisa

Dan kau inginkan

Karena kejujuran kata-kata

Yang kau tulis lewat pena

Sesungguhnya adalah kebaikan untukmu sendiri

**************

Apa buruknya tulisan yang tak bermutu?

Kau hanya akan tahu sisi lemahmu

Juga cara pandangmu pada dunia

Itulah caramu keluar dari diri, dan melihat jiwa

Dengan utuh, lewat kejujuran tulisanmu

Bukankah dengannya,

Kau justru akan bertumbuh,

Bertambah haus ilmu,

Juga belajar berani menatap siapa dirimu?

*****************

Kenapa harus merasa malu

Saat tulisanmu tak seperti orang lain

Tak puitis, tak berkelas, tak tertata….

Bukankah semua yang besar berawal dari kecil?

Lupakah kau bahwa suatu ciptaan yang ada berasal dari ketiadaan?

Tak harus malu untuk melangkah

Karena tapak kakimu kecil

Langkahkan saja dengan cepat

Niscaya kau akan bisa kejar kafilah itu

***********************

Duhai jiwa…..

Kenapa kau begitu pedulikan

Tatapan manusia!!!!!!

*********************

Luruskan saja niatmu

Untuk apa kau menulis?

Untuk dipandang manusia, supaya dikatakan berilmu?

Agar dipuji dan dikatakan hebat?

Atau karena remeh temeh dunia lainnya?

Lamat-lamat  kudengar kekasih Allah berkata:

“sesungguhnya semua amal itu dengan niat.

Dan sesungguhnya bagi setiap orang itu apa yang ia niatkan”

*************************

Ah….lag-lagi niat

Dari awal penciptaan manusia

Hingga kiamat,

Tak kan pernah henti syaithan

Mengajak kita tersesat

“pelajarilah niat,

Sebagaimana kalian belajar ilmu”

Begitu nasehat seorang salaf

******************

Seorang  generasi tabi`in pernah berhenti sejenak

Saat harus mengikuti jenazah seorang sahabat

Kenapa?

Karena ia belum punya niat

Mengapa dia harus berada di sana

Setelah dia temukan niat yang tepat

Dan dapat membuat Allah ridha,

Barulah ia lanjutkan langkah kakinya

Mengiringi jenazah sahabatnya

**********************

Berapa seringnya kita tak berniat?

Untuk hal-hal ibadah

Dan hal-hal kebiasaan sehari-hari kita

Termasuk menulis….

***********************

Nabi SAW bersabda :

“Allah berfirman, `jika hamba-Ku berniat melakukan suatu amal keburukan, maka janganlah kalian (para malaikat) mencatat kesalahannya hingga ia mengerjakannya. Jika ia telah melakukannya, tulislah semisal perbuatannya. Dan jika ia meninggalkannya karena (takut kepada)-Ku, maka tulislah baginya 1 kebaikan. Dan jika hamba_ku berniat melakukan suatu amal kebaikan namun belum dikerjakannya, maka tulislah baginya 1 kebaikan, adapun jika ia telah melakukannya, maka tulislah baginya 10 kebaikan semisalnya, hingga 700x lipat (H.R. Bukhori)

*************************

Ahhh…indahnya menjadi hamba Allah

1 kebaikan,

10 kebaikan,

Atau 700 kebaikan

Adalah hak prerogatif  Allah untuk tentukan

Berapa yang layak kita dapatkan

Tugas kita hanya berusaha semampunya

Memberikan yang terbaik yang kita punya, karena Allah.

Dengan persembahan terbaik yang kita bisa

Yang tak tercampur kotoran apapun

Bukan karena dunia yang fana,

Juga karena pamrih pada Allah

Seperti susu murni yang Allah pisahkan

Dari darah dan kotoran

*******************

Tulis saja……

Karena sesungguhnya

Engkau sedang membuat jejak sejarah

Tentang perjalanan hidup manusia

Yang tak akan bisa terekam sempurna

Lewat angan dan lamunan semata

Saatnya merenung; benarkah renunganmu selama ini?

Kala kau rasa itu salah, maka tuliskanlah

Niscaya kau tak akan mengulanginya

Kala kau rasa ia benar, cukuplah hamdalah

Sebagai pengingat kita

****************

Jadi, tulislah dengan hatimu

Karena kau tak pernah tahu,

Siapa yang akan tersentuh

Lewat pena mu.

Saat  suara mu tak bisa terdengar,

Biarlah tulisanmu merangkai cerita

Tanpa harus mengharap pujian kanan

Dan celaan kiri

Apalagi hanya acungan jempol

Yang terkadang tak keluar dari hati

*****************

Rabb…bantu dan bimbing hamba

*****************

(Pontianak, 15/3-11 menjelang malam di bumi khatulistiwa :“sedang menyemangati diri sendiri untuk istiqomah menulis🙂 )

Kesabaran

Kesabaran itu, bukan saat

Kau ingin, langsung kau dapatkan

Atau juga, saat kau harap

Segera tercapai

Tapi sabar itu kau menunggu

Dengan setia dan buncahan harap

Serta dada yang penuh ikhlas

Akan janji-Nya

Bahwa segalanya akan sesuai

Dengan apa yang tertakdir oleh Nya

********************

Seperti kesabaran bumi yang rindu hujan

Seperti kerinduan bulan

Akan pekatnya malam

Juga seperti rindunya lebah

Menunggu kuncup mekar menjadi bunga

*********************

Semua akan terbayar lunas

Pada waktunya,

Tanpa pernah meleset sedetik pun

Sampai kesabaran itu berteman baik denganmu

Menjadikanmu sosok

Yang seperti karang kokoh

Gagah menantang badai

*****************

Apa kau pikir Tuhan itu tidur?

Membiarkan dirimu dalam masalahmu…

Apa kau kira Tuhan mengabaikanmu?

Karena sibuk mengurus  makhluk lainnya?

********************

Ayolah teman…

Janganlah begitu

Pun Allah tidak menciptakanmu

Untuk sebuah permainan

********************

Tegakkan pundakmu, angkat kepalamu,

Jangan terlalu apatis bahwa engkau sendirian

Campakkan lemahmu seperti baju usang

Karena ia memang tak layak lagi kau pakai

**********************

Kau, dia, dan mereka,

Juga kita semua

Hanya alat dari pelaksanaan takdir-Nya

Mainkan saja peran kita

Dengan sebaik-baiknya

********************

Tidakkah kau dengar kata-Nya

“sesungguhnya Aku dekat…

Mintalah pada Ku, niscaya Aku kabulkan”

************************

Kita hanya perlu bersabar bukan?

Hingga ketetapan itu tiba

Karena Ia sebaik-baik tempat

Kita bergantung segalanya.

Segalanya… hanya pada Nya

***

Pontianak, 10/3-2011

(teruntuk seorang  saudara yang sedang gundah)

Dulu…dulu sekali

Kita pernah sangat dekat

Hingga tak ada rahasia

Yang benar-benar rahasia Diantara kita

********************************

Saat malam pun telah menggoda kita

Untuk terbuai mimpi indah,

Kita masih bercengkrama

Dengan mesra…

Walau tanpa tatap mata

****************************

Ingatkah kau saat hujan itu?

Kau payungi aku dengan tubuhmu

Pun debu jalanan yang terangkat keatas

Karena tetes air hujan,

Menjadi iri dengan perhatianmu

********************************

Masihkah kau dengar suara tawa kita?

Saat berceritera tentang sang lentera

Yang senantiasa setia Menjadi penerang kita

*****************************

Dulu…dulu sekali

Kita mungkin tak pernah merasa bahagia

Tentang apa yang kita jalani

Tentang apa yang akan segera kita hadapi

****************************

Sekarang…

Saat takdir memutuskan

Untuk memisahkan kita

Segalanya mulai terasa indah

Keperihan itu….

Air mata itu…

Pertengkaran itu…

Telah bermetamorfosa

Menjadi Memori yang indah

Untuk selalu dikenang

Ya…Rasa sakit yang mendewasakan

(untuk seseorang yang sangat berarti, yang akan segera pergi)

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.