Jum`at itu, skenario Allah mempertemukanku dengan beliau. Hampir tak bisa kukenali wajahnya. Hanya senyum yang sempat terlempar sebelum kuletakkan tas ku di depan shaf pertama perempuan. Sambil mendengarkan azan dari masjid raya di kotaku ini
******************
Setelah azan selesai berkumandang, kutolehkan kembali wajahku menghadapnya. Dia tersenyum lembut. Segera kuingat dimana pernah berjumpa.. aha!… beliau seorang pengajar di sebuah sekolah. Kucium tangannya sambil tanyakan kabarnya. Tangan itu bergetar, dan ada tanda-tanda merah bekas tusukan jarum sepertinya
****************
Dan mengalirlah ceritanya…
Beberapa tahun yang lalu, beliau pernah mengalami tumor rahim. Rahimnya harus diangkat, karena tumor itu sudah menjalar ke sana, butuh keikhlasan memang untuk menerimanya..
Selang beberapa tahun kemudian, ternyata operasi itu berdampak panjang padanya. Aku juga tidak terlalu paham pemaparannya. Tapi yang kutangkap, ada penumpakan sel-sel yang berlebih karenanya. Tak bisa menstruasi, tak bisa menyusui lagi…dan sel-sel itu menumpuk di payudaranya.
Allah… ada yang menyembilu di dada saat ia katakana kedua payudaranya juga harus diangkat!
“sholat sunnah dulu yuk nak….”, begitu katanya menutup cerita
Duhai diri….sungguh keterlenaan yang memalukan!!!
***************
Sholatku memang jauh dari khusyuk!
Saat shaf-shaf itu telah berbaris rapi, dia tepat berada di sebelahku.
Saat rukuk, dapat kudengar rintihannya..”Sssssssssshhhhhhhhhhhhh……”, ngilu…
Saat sujud, atau bangun dari sujud, rintihan itu semakin menyembilu : “sssssshhhhhhhhhhhhhhhhh”
*****************
Allah..aku tau dia tak bermaksud mengeluh
Atau juga mengadu pada manusia..
Bagaimanapun dia seorang manusia biasa.
Saat luka-luka di kedua payudaranya yang masih diperban itu,
Terasa menyakitkan,
Bisa kupahami rintihannya
************
7 bulan beliau harus menjalani kemotherapi di Jakarta
Tanpa henti; waktu, biaya, dan pengorbanan yang pasti
Tak bisa dijalani jika tak punya hati sebening mata air keikhlasan
Hebatnya lagi, selama proses itu, ada seorang lelaki
Yang setia menemaninya menjalani itu semua.
Suaminya.
Yang bersedia meninggalkan pekerjaan dan keluarga demi menemani istri tercinta
Agar tak menjalani itu semua dalam kesendirian
*************
Aku mungkin kurang beruntung,
Tak bisa melihat seperti apa wajah pangeran beliau.
Tapi aku yakin, orang-orang seperti mereka;
Yang berhasil melewati masa-masa ujian yang berat,
Punya tatapan mata berbeda terhadap belahan jiwanya.
Tatapan kasih sayang, penuh cinta.
Bukan karena fisik mereka..
Tapi karena jiwa-jiwa mereka telah menikah.
Seutuhnya
Maka menjelma lah mereka
Dalam putaran mayapada yang tak kenal kata:
Lelah, dusta, atau menyerah
Maka menyejarahlah mereka….
******************
Yang kupahami, hidup ini memang seperti sebuah panggung besar
Setiap orang dapat peran masing-masing
Terkadang, tak layak kita tanyakan pada Sang Pencipta
Mengapa ia pilihkan scenario itu untuk kita?
Kenapa kita tidak mendapatkan peran yang menyenangkan saja?
Atau justru mencerca orang disekitar
Karena melakukan peran itu pada kita.
Karena memang inilah mata rantai kehidupan kita
Mainkan saja peran-peran kita dengan sempurna,
Dengan ridha,…Sampai Allah Ridha,
*******************
Seorang sahabat pernah berkata padaku,
“kita tidak bisa menuntut orang lain untuk sempurna.
Tapi kita bisa menuntut kesempurnaan itu pada diri kita”
Yah…dia benar
Kala ujian itu tiba, kita tak bisa menuntut orang sekitar kita
Untuk pahami kita, untuk mengerti kita,
Atau mengikuti apa yang kita inginkan
Tapi kala ujian itu tiba,
Kita bisa menuntut diri kita untuk berperan dengan sempurna
Menuntut diri kita untuk memahami
Bahwa itulah yang tertakdir untuk kita
Itulah ujian untuk kita
Itulah yang terbaik yang Allah berikan pada kita
Maka…berprasangka baiklah padaNya
*************
Allah, kala ujian itu tiba…
Aku tahu bahwa jiwa-jiwa kami telah sepakat
Untuk saling bersekutu
Menjalankan perintah Mu
Maka, semoga jiwa-jiwa itu
Tetap bersepakat dalam ketaatan padaMu
Karena tanpanya, kami pasti tersesat

salam ta’zim buat penulis, sungguh tuturan nan bernas
halah..lebai antum ni!!
mana lah bisa nyaingi sang pujangga sejati
Tulisan yang bagus, aku suka ini…. ^_^
terima kasih reksa. salam kenal
masing-masing kita akan diuji untuk mengetahui sebesar apa keimanan dan sedalam apa kecintaan kita padaNYA, sejauh mana kita bisa berhusnudzon atas setiap ketetapanNYA, ketetapan yang selalu dan pasti indah meski belum kita fahami maksudnya….